Kiara merebahkan tubuhnya di sofa panjang di ruang keluarga, wajahnya terlihat lelah. Perut besarnya semakin menekan tubuhnya, dan kali ini ia mulai mengeluh. Tangannya refleks mengusap pinggangnya yang terasa pegal dan berat. “Albert… pinggangku sakit sekali,” ucap Kiara dengan suara lirih. Albert yang baru saja selesai berbicara dengan asistennya lewat telepon langsung menoleh. Wajahnya yang semula serius berubah cemas. Tanpa pikir panjang, ia segera menghampiri istrinya yang sedang meringis. “Sayang, kenapa tidak bilang dari tadi? Duduk tegak sedikit. Aku pijitkan, ya?” Albert duduk di belakang Kiara, menuntun tubuh istrinya agar sedikit membungkuk ke depan. Kiara menghela napas, mencoba menurut. “Aku takut mengganggumu. Kau kan sedang sibuk dengan pekerjaanmu.” Albert mendengus ke

