Malam itu udara New York terasa begitu dingin. Lampu-lampu kota berkilau di kejauhan, memantul di permukaan mobil hitam Albert yang berhenti tepat di depan gerbang besar mansion milik Alden. Mesin mobil masih menyala, mengeluarkan dengungan lembut, sementara dari balik kaca depan terlihat wajah Albert yang tampak tegang dan lelah. Ia keluar dari mobil perlahan, langkahnya berat namun mantap. Begitu bel rumah ditekan, suara langkah Alden terdengar dari dalam, dan pintu besar itu pun terbuka. “Daddy?” suara Alden terdengar, matanya langsung memandang ke arah ayahnya yang berdiri dengan mantel hitam panjang dan tatapan dingin yang khas. Albert mengangguk kecil. “Di mana Kiara?” suaranya dalam, tenang, tapi menyimpan tekanan yang membuat Alden spontan menegakkan tubuhnya. “Kiara ada di rua

