Gedung Ludwig Automotive berdiri angkuh di pusat distrik bisnis, sebuah monumen kaca dan baja yang melambangkan kekuasaan absolut Hayes Ludwig. Bagi orang awam, gedung ini adalah benteng yang tak tertembus. Namun bagi Axel Ludwig, gedung ini hanyalah taman bermain masa kecil yang kini berubah menjadi medan perang dingin. Meskipun ia masih berstatus mahasiswa yang sedang bergelut dengan skripsi dan tidak memiliki meja kerja resmi di sana, darah Ludwig yang mengalir di nadinya adalah paspor paling kuat yang pernah ada. Pagi itu, Axel melangkah masuk melalui lobi utama. Para petugas keamanan segera berdiri tegak, memberikan hormat yang canggung namun penuh ketakutan. Mereka mengenal wajahnya sebagai pewaris tunggal, putra dari pria yang bisa memecat mereka hanya dengan satu jentikan jari.

