Hening yang menyelimuti apartemen mewah itu terasa mencekam, sebuah kesunyian yang justru lebih mematikan daripada ledakan granat. Hayes Ludwig berdiri tegak di tengah ruang kerja pribadinya, menghadap jajaran layar monitor yang menampilkan kekacauan di jagat maya. Di ruangan sebelah, ia masih bisa mendengar isak tangis Luna yang perlahan mereda karena kelelahan emosional, dan setiap suara isakan itu terasa seperti sembilu yang mengiris harga dirinya sebagai seorang pria. Hayes tidak pernah merasa segetir ini; ia adalah pria yang mampu menggerakkan pasar saham hanya dengan satu panggilan telepon, namun hari ini, ia harus melihat wanita yang ia cintai hancur berkeping-keping karena serangan pengecut dari balik layar komputer. Matanya yang biasanya sedingin es kini memancarkan api kemarahan

