Malam di Jakarta selalu menyimpan sisi gelap di balik gemerlap lampu gedung pencakar langit, dan di sebuah bar privat yang tersembunyi di lantai bawah tanah sebuah gedung tanpa papan nama, dua bayang-bayang besar sedang bertemu untuk merajut kehancuran. Clifford duduk di kursi kulit yang empuk, jemarinya yang keriput namun kokoh mengetuk-ngetuk pinggiran gelas kristal berisi brendi mahal. Matanya yang tajam dan sedingin es menatap ke arah pintu saat Axel Ludwig melangkah masuk. Axel tampak berbeda malam ini; tidak ada lagi jejak pemuda idealis yang mencari keadilan. Yang tersisa hanyalah pria yang dikuasai dendam, dengan rahang yang mengeras dan sorot mata yang mencerminkan kegagalan yang membusuk menjadi kebencian. Clifford tidak segera menyapa. Ia membiarkan kesunyian yang mencekam me

