Ruangan kerja Miles Sterling yang biasanya dingin dan teratur seketika berubah menjadi medan energi yang menyesakkan. Setelah Axel Ludwig melangkah keluar dengan senyum pahit yang meninggalkan jejak kehancuran, Miles tetap terpaku di kursinya, menatap ponsel yang layarnya retak di atas lantai marmer. Suara rekaman yang tadi sempat ia dengar—suara rintihan putrinya sendiri yang berpadu dengan suara rendah nan posesif dari musuh bebuyutannya, Hayes Ludwig—masih terngiang-ngiang di telinganya seperti dengung ribuan lebah yang menyengat. Setiap kata "Hayes" yang diucapkan Luna dengan nada pasrah dan penuh gairah terasa seperti belati yang berulangkali menghujam jantung dan harga diri Miles sebagai seorang ayah sekaligus penguasa Sterling Group. "b******n ... benar-benar b******n!" raung Mil

