Tepat pukul lima sore, Herman sudah menunggu di lobby apartemen Luna, mesin Maybach Hayes yang hitam mengkilap bersembunyi di sudut area parkir. Luna turun, mengenakan pakaian yang sederhana namun elegan—dress hitam selutut dengan kerah tinggi, pakaian yang sengaja dipilih untuk memberikan kesan keseriusan akademis, bukan perselingkuhan. Ia telah mencuci bersih semua jejak kelemahan emosionalnya, wajahnya kembali tenang, dan matanya memancarkan kelelahan yang terkontrol, persis seperti yang Hayes perintahkan. Di balik penampilan rapinya, Luna adalah sebuah bom waktu yang baru saja diberi peredam. Perjalanan menaiki lift pribadi menuju Penthouse Hayes terasa sunyi. Herman hanya mengangguk hormat, menyadari ketegangan yang menyelimuti Luna. Luna tahu bahwa Herman adalah mata dan telinga H

