Azan maghrib baru saja selesai bergema ketika basecamp di garasi rumah Baskara kembali dipenuhi cahaya lampu putih yang dingin. Udara malam membawa aroma aspal basah dan sisa kopi yang mulai pahit. Baskara memutar kursinya menghadap mereka semua, jemarinya bertaut di depan d**a. “Itu berisiko,” ujarnya datar. “Sekali salah langkah, mereka bisa balik nyerang. Atau nutup semua akses.” “Makanya harus kelihatan alami,” sela Anasera, suaranya tenang namun penuh perhitungan. Ia melangkah mendekat ke papan tulis, mengambil spidol, lalu mulai menarik satu garis besar. “Bukan serangan langsung. Tapi sinyal. Sesuatu yang cuma mereka yang ngerti artinya.” Sandira mengangguk pelan, matanya menyipit. “Kayak kode,” katanya. “Atau rumor tandingan yang bikin mereka mikir ada orang dalam yang bocor.”

