Siang mulai merangkak naik ketika mereka keluar dari rumah sakit. Cahaya matahari menyelinap di sela gedung-gedung tinggi, jatuh di wajah Aruby yang masih pucat namun kini tidak lagi kosong. Di depan lobi, kedua orangtuanya berhenti melangkah. Ibu Aruby merapikan kerah baju putrinya dengan gerakan yang terlalu lembut untuk sekadar kebiasaan, sementara ayahnya berdiri tegak di samping mereka, tatapannya mantap, seperti seseorang yang akhirnya bisa menaruh percaya pada arah yang mereka tuju. “Kalian yakin gak apa-apa?” tanya ibunya pelan, matanya berpindah dari Aruby ke Kairav. “Mama sama Papa bisa ikut ke kampus kalau perlu.” Aruby menggeleng kecil, senyum tipis tersungging meski matanya masih sembap. “Gak usah, Ma,” katanya. “Kami cuma mau serahin bukti. Selebihnya biar pihak kampus yan

