Suasana butik pengantin langganan keluarga Kairav itu sangat tenang, namun bagi Kairav, kemewahan di sekitarnya terasa mencekik. Ia berdiri di depan cermin besar, mengenakan jas tuxedo hitam yang sangat pas di tubuhnya. Matanya menatap kosong ke pantulan dirinya sendiri. Di kepalanya, bayangan Aruby yang lari sambil menangis di koridor kampus seminggu yang lalu terus berputar, menyayat nuraninya. Nadira keluar dari ruang ganti dengan gaun pengantin putih yang sangat anggun. Ia berjalan pelan menghampiri Kairav, menatap bayangan laki-laki itu di cermin dengan wajah haru. “Mas... gimana? Bagus nggak?” tanya Nadira pelan, suaranya terdengar ragu dan lembut. “Aku takut gaunnya terlalu berlebihan.” Kairav tersentak dari lamunannya. Ia menoleh perlahan, menatap Nadira yang kini terlihat sa

