09. Amarah yang Berbeda

1939 Words

Udara di ruang 207 gedung Fikom pagi itu seakan terasa begitu segar. Bukan karena pendingin ruangan yang baru diganti, tapi efek hujan pagi hari yang terasa begitu syahdu. Meski begitu, kelas Entrepreneurship hari itu berjalan agak tegang saat tiba-tiba Pak Raden—sang dosen, baru saja mengumumkan proyek kelompok yang katanya “akan menentukan setengah nilai akhir.” “Gue udah yakin, deh,” gumam Sandira dari kursi sebelah Aruby sambil menatap daftar kelompok di layar proyektor, “Pak Raden tuh ngundi kelompok bukan pakai logika, tapi pakai dendam pribadi.” Aruby terkekeh, menutup laptopnya yang baterainya nyaris habis. “Lo masih mending. Gue satu tim sama anak yang suka telat ngumpulin data wawancara. Fix bakal kerja sendirian lagi, nih.” Pembicaraan keduanya terhenti ketika Pak Raden

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD