58. Berani Cium, Gak?

1264 Words

Hening. Dua, tiga, lima detik... “…Enggak,” jawab Sandira cepat tanpa mikir. “Big no,” sambung Shaila sambil mengangkat tangan. “Gue kayaknya mendadak kepengen istirahat sekarang deh,” tambah Anasera. “Gue juga enggak,” tolak Aruby. Garvi mendengus. “Eits. Aturannya satu. Semuanya harus ikut. Tanpa terkecuali.” “Siapa yang bikin aturan?” tanya Fano malas. “Gue,” jawab Garvi bangga. “Dan gue punya mayoritas.” Baskara tertawa kecil. “Mayoritas dari mana? Dari otak lo doang itu mah monyet!” Garvi menunjuk sekeliling. “Liburan. Api unggun. Malam. Pantai. Ini setting sempurna buat Truth or Dare. Kalau kalian nolak, artinya kalian pengecut udah.” “Halaaaah kartu paling basi,” sahut Shaila. Sandira justru melirik sekeliling. Api unggun, laut yang gelap, gitar Kairav yang disandarkan, t

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD