"Aku ... aku tidak salah melihat, 'kan?" "Ini benar-benar Ayah?" Masih dengan perasaan bingung tangan Sheilla terulur. Sedikit gemetar, tetapi jari telunjuknya mencoba menyentuh pelan pipi wajah pria di depannya. Terasa dan nyata. Ini bukan mimpi. Sheilla kembali menarik tangannya. Tatapannya kini beralih ke arah samping, arah di mana Daisy duduk. Tatapan keduanya beradu karena ternyata sejak tadi Daisy menyaksikan gerak-gerik interaksi keduanya. Sejauh ini tidak ada yang aneh, namun Daisy harus tetap waspada. "Ayah mau menemuiku lagi? Bukankah Ayah pernah bilang, kalau aku ke luar dari rumah, aku bukan ... anak Ayah lagi." "Sayangnya darahku mengalir di dalam tubuhmu." Sheilla terkesingkap mendengar jawaban Alexander. Selain tutur kata yang sopan, nada bicara pria itu juga sangat

