Bab 116

1580 Words

Andrew berlari mondar-mandir di ruangan sempit itu seperti binatang buas yang terperangkap. Matanya liar, keringat dingin mengalir dari pelipisnya. Dari celah jendela kecil yang berdebu, ia bisa melihat kilatan lampu merah-biru mobil polisi yang memantul di dinding bangunan tua. Suara mesin mobil dan langkah kaki yang mendekat semakin membuatnya tersudut. Ia tahu waktunya hampir habis. Namun ketika ia menoleh, pandangannya tertumbuk pada Sarah yang masih terikat di kursi dengan wajah penuh air mata—tapi kali ini berbeda. Ada secercah senyum harapan di sana, sebuah cahaya kecil yang membuat hati Andrew semakin terbakar oleh amarah dan rasa takut kehilangan. “Kau senang, ya?” Andrew mendesis, wajahnya mendekat ke Sarah. “Kau pikir Kavindra akan datang menyelamatkanmu? Kau pikir polisi bisa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD