Suasana sore yang tenang di ruang makan pecah dalam sekejap. Sarah sedang duduk di kursi tinggi, satu tangan menahan botol MPASI, satu tangan lagi menepuk pelan punggung Alvano yang mencerna makanannya. Suara kecil si bayi, sesekali gumaman dan cegukan lucu, membuat Sarah tersenyum tipis — sejenak melupakan segala kekacauan beberapa hari terakhir. Lalu ponsel di meja berbunyi. Notifikasi masuk. Sekilas Sarah berharap itu pesan biasa: tawaran acara, chat grup keluarga, atau jadwal imunisasi. Namun ketika dia menyapu layar, wajahnya berubah pucat dan napasnya tercekat. Di layar muncul nama pengirim: “Saras”. Isi pesan singkat namun dingin: > “Pergilah, Sarah. Kalau kau benar-benar cinta pada Kavindra, pergi sekarang. Kalau kau memilih bertahan, jangan salahkan aku kalau semuanya lenya

