Bab 106

2372 Words

Pintu rumah terhempas keras saat Kavindra masuk — suara itu memenuhi lorong dan membuat pelayan menoleh terkejut. Dia melangkah cepat, wajahnya pucat, bola matanya memerah seperti orang yang tak tidur, napasnya berbau panik. Tapi saat melihat Sarah duduk di sofa ruang tengah dengan Alvano di pangkuannya — mata kecil bayi itu mengintip polos dari balik selimut — sesuatu di dadanya runtuh. Tanpa banyak berpikir, Kavindra tergopoh-gopoh mendekat, lalu menangkup lututnya di lantai. Dia bersujud di depan istrinya, menempelkan keningnya ke lantai kayu dan menggenggam kedua kaki Sarah dengan tangan yang bergetar. “Sarah…,” suaranya pecah. “Aku mohon… dengarkan aku. Tolong dengarkan aku dulu.” Sarah memandang datar, wajahnya troskas—capek, marah, sakit. Dia tidak segera menyentuh tangan yang me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD