Di kamar rumah sakit yang tenang, suara monitor jantung dan tetesan infus terdengar jelas. Sarah terbaring dengan wajah pucat, mata terpejam lemah. Tangannya digenggam erat oleh Raisa yang duduk di sisi ranjang, sementara Ardi berdiri di ujung tempat tidur dengan ekspresi muram. Raisa menatap menantunya itu, lalu menghela napas panjang. “Sarah... kenapa kamu memaksakan dirimu seperti ini? Kamu tahu tubuhmu tidak kuat kalau terus-terusan bolak-balik rumah dan rumah sakit.” Sarah membuka matanya perlahan, menoleh lemah. Suaranya hampir berbisik. “Mama... aku... aku tidak bisa tenang kalau tidak melihat Kavindra. Aku takut terjadi apa-apa padanya. Dan di rumah, Alvano terus menangis mencari aku. Aku tidak bisa diam saja, Ma.” Raisa menggeleng dengan mata berkaca-kaca. “Nak, kamu manusia, b

