Rasa sesak yang aneh muncul di dadaku. Ada bagian dari diriku yang merasa kecewa, namun bagian lain sisi perwiraku yang angkuh merasa ini lebih baik. Aku menarik kursi, duduk tepat di hadapannya dengan punggung yang tetap tegak dan wajah yang kembali sedingin es. "Julian," jawabku singkat, suaraku datar tanpa emosi. Sepanjang makan malam, aku hanya memperhatikannya diam-diam. Penilaianku tetap sama, dia terlalu berisik. Dia tertawa menceritakan gurunya yang galak, dia bersemangat bicara soal tugas sekolahnya, dan dia sama sekali tidak menyadari bahwa pria di depannya ini sedang berjuang mati-matian agar tidak terlihat seperti orang bodoh yang masih menyimpan ingatan tentang seorang gadis pembawa baki 2 tahun lalu. "Julian, kenapa diam saja? Ajak Milea ngobrol, dong," tegur Mama Widuri.

