Bab 18. Bayar Utang, Kapten!

1026 Words

Ledakan itu terjadi begitu cepat, mengubah langit senja yang tenang menjadi jingga yang mematikan. Suara denging panjang di telinga Julian seolah membungkam jeritan anak buahnya dan deru api yang mulai melahap barak darurat di sekelilingnya. Julian tersungkur di atas tanah yang panas. Pandangannya mengabur, tertutup oleh asap hitam pekat dan jelaga yang menusuk paru-parunya. Di tengah kekacauan itu, saat kesadarannya nyaris terenggut oleh rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya, sebuah bayangan muncul di benaknya. Bukan bayangan medali kehormatan atau bendera negara. Melainkan wajah Milea di bawah lampu-lampu gantung Tianzifang. Ia teringat jelas aroma kopi dan udara dingin Shanghai malam itu. Ia teringat jemari Milea yang gemetar saat menyentuh tangannya, dan mata indah yang menat

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD