Malam ini, hujan tipis masih turun, membasahi dedaunan dan membentuk kilau di bawah sorot lampu taman. Rumah besar itu tampak lengang. Hanya suara tetes air dari langit yang terdengar ritmis di sela-sela senyap. Zakwan memarkir mobil yang dikendarai dengan gerakan hati-hati. Mesin dimatikan, menolehkan kepala ke belakang untuk dapat memberitahu sang majikan. "Tuan, kita sudah sampai." Erik menarik napas panjang sebelum keluar dari dalam mobil, membiarkan udara malam yang lembab menyentuh kulit wajahnya. Ada kelelahan di tubuhnya—hari ini begitu panjang, emosional, dan penuh tekanan. Namun bukan itu yang mengganjal di benaknya. Yang membuat dadanya terasa berat adalah kenyataan bahwa seharian ini ia tidak bertemu Yurika, istrinya. Pagi tadi, Erik datang ke kantor pusat hanya untuk menur

