Dara menaik-turunkan tubuhnya dengan ritme yang perlahan, membiarkan setiap sentuhan menjadi gema dari rasa yang sudah lama terpendam. Jemarinya mencengkeram d**a Jedidah, dan mata mereka bertaut dalam diam. Cahaya senja menari di kulit mereka, memeluk siluet dua insan yang menyatu di bawah langit jingga. “Ahhhh! Ahhhh! Massss! Ohhh astagaaa!” rasanya menancap, sangat besar di dalamnya, membuat Dara kesulitan menaikturunkan tubuhnya. “Shhhh… sayang…” Jedidah mendesah tertahan, menggigit bibir bawahnya saat tubuh Dara melengkung lembut di atasnya, seolah tak ingin momen itu lekas berlalu. Nafas mereka berpadu, kadang terengah, kadang tertahan, seiring peluh yang mengalir pelan di antara kulit yang bersentuhan. Dara seperti bunga liar yang mekar penuh di hadapannya—liar, anggun, dan tak

