Dara tidak takut sama sekali. Ia menutup pintu kamar dengan tenang, lalu melangkah pelan namun pasti ke koridor, membiarkan cahaya lampu lorong menyinari wajahnya yang dingin. Di ujung sana, Roseta berdiri dengan tubuh oleng, menggenggam tas tangan besar seperti hendak melemparkannya ke siapa pun yang menghalanginya. "Dara Van Der Zandt," gumam Roseta pelan, bibirnya menyunggingkan senyum mengejek. "Lihat kamu sekarang. Istri orang kaya. Tapi tetap saja anak dari pecundang." Dara menatapnya, tatapan tajam dan penuh penghinaan. Ia berdiri di sana, tenang, tidak menghindar, tidak goyah, hanya memandang Roseta seperti melihat sampah yang tak sengaja lewat di jalannya. "Masih menjual mulutmu karena tak ada yang mau membeli hatimu, Roseta?" ucap Dara pelan, tapi tajam seperti belati yang men

