Dibalk Rasa

2447 Words

Arunika sebenarnya ingin marah. Rasa itu sudah muncul sejak ia membuka mata dan melihat jam menunjukkan pukul dua siang. Tubuhnya masih menyisakan lelah yang sulit dijelaskan, napasnya belum sepenuhnya ringan, dan pikirannya langsung berlari pada satu hal yaitu janji. Ia sudah berjanji pada anak-anak BEM, pada dirinya sendiri, bahwa hari ini akan menjadi hari yang penuh fokus. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ia keluar dari kamar dengan langkah pelan, rambutnya masih sedikit lembap, pakaian sudah rapi meski terasa seperti dipakai terburu-buru. Begitu kakinya melewati ambang pintu, ia langsung berhenti. Ruang tengah penthouse itu… bukan sekadar ramai, tapi penuh. Kursi, sofa, bahkan sebagian karpet sudah ditempati. Ada suara percakapan yang langsung meredup saat ia muncul, dan aroma m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD