“Oh, Pak Dewan… wajahmu… agak menakutkan,” gumam dokter itu begitu pintu ruang periksa terbuka dan Mahadewan masuk bersama Arunika. Nada suaranya ringan, bahkan ada sedikit nada menggoda yang terselip, meskipun matanya jelas menilai kondisi lebam di wajah pria itu dengan cepat dan profesional. Ruangan pemeriksaan itu terang, bersih, dengan aroma antiseptik yang lembut bercampur wangi diffuser floral yang menenangkan. Cahaya siang dari jendela besar menyelinap masuk, membuat suasana terasa hangat meski berada di dalam rumah sakit. Arunika yang sejak tadi diam langsung menoleh ke arah dokter tersebut, sedikit canggung, sementara Mahadewan tetap berjalan lurus seolah komentar itu tidak terlalu penting baginya. “Fokus saja pada tunangan saya, Dok Kiyya,” jawab Mahadewan datar, tanpa ekspres

