Arunika belum tahu dirinya akan dibawa ke mana oleh Mahadewan. Yang ia tahu, siang itu ia hanya duduk di kamar, menatap laut dari balik jendela besar yang terbuka setengah, membiarkan angin asin masuk dan memainkan tirai tipis di sana. Keindahan itu terasa terlalu tenang untuk situasi yang sedang ia hadapi. Biru laut membentang tanpa batas, berkilau di bawah matahari, seolah memanggil siapa saja untuk turun dan menikmati. Namun Arunika bahkan belum sempat menyentuh air itu, belum sempat merasakan apa pun selain… kekacauan yang terjadi beberapa hari terakhir. Di belakangnya, seorang mbak sibuk membereskan barang-barangnya ke dalam koper. Suara resleting, lipatan pakaian, dan langkah kecil di lantai kayu menjadi latar yang kontras dengan lamunan Arunika yang terlalu jauh. Ia tidak menyadari

