Lambat laun suara Meisya pun hilang. Suara mobilnya juga terdengar dan sepertinya, dia sudah pergi dari rumah Abi ini. Abi yang sempat merebahkan tubuhnya itupun bangun dan duduk di atas ranjang Dia tidak bisa tidur dan kepikiran dengan yang tadi. Bukan memikirkan Meisya, tapi memikirkan wanita yang satunya, yang sudah memberinya seorang anak perempuan yang lucu nan menggemaskan. Ia usap pipinya yang masih terasa pedas, berkat tamparan yang diberikan oleh ibu dari anaknya itu. Tidak bermaksud untuk merendahkan atau apa. Ia hanya ingin yang terbaik untuk anaknya saja. Tapi rupanya, apa yang ia inginkan justru sudah melukai hati dan bahkan membuat seseorang murka. Kesempatan untuk bertemu dengan anaknya itu pun hilang dalam sekejap. Tidak tahu kemana perginya Nayanika tadi. Ia kehilangan

