Pyar! Entah bagaimana nampan yang Arini genggam kuat kini jatuh ke lantai. Cangkir dan gelas itu pecah, menjadi kepingan kecil yang sedikit dari bagiannya mengenai kaki perempuan tersebut. Kaki Arini terluka, darahnya keluar dengan sensasi perih yang rupanya tidak dirasakan sama sekali olehnya. Apa yang perempuan tersebut rasakan bukan lagi terkejut, melainkan syok yang mengundang trauma masa lalunya. “Tante Samira ....” Nama itu keluar dari mulut Arini. Ya, wanita tengah baya tersebut merupakan ibu dari Arka. Seseorang yang dengan secara terang-terangan pernah meminta dirinya pergi. Tanpa peduli bagaimana kisah asmara putranya dulu, Samira meminta agar Arini menjauh dengan jaminan pengobatan kedua orang tuanya terjamin. Tapi, siapa sangka jika ibu dari Arka tersebut malah membangun

