Dengan ragu, Arini menerima test pack itu. Jemarinya terasa dingin saat menggenggam benda kecil tersebut. Tanpa menatap Arka lagi, ia berbalik dan melangkah menuju kamar mandi, menutup pintu di belakangnya dengan pelan—seolah ingin menahan dunia di luar agar tidak ikut masuk. Di dalam, ia berdiri kaku beberapa detik. Napasnya terasa pendek, dadanya naik turun tidak teratur. Tangannya bergerak hampir otomatis, mengikuti apa yang harus dilakukan, meski pikirannya dipenuhi kegelisahan yang tak beraturan. Satu detik. Dua detik. Waktu berjalan lambat—terlalu lambat. Arini menatap alat tes itu tanpa berkedip setelah mencelupkan benda itu ke dalam air seninya. Dalam diam, harapan dan doa bertabrakan di dalam kepalanya. Ia bahkan tak sadar bibirnya bergerak pelan, memohon sesuatu yang ia send
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


