Rakha's PoV
Aku heran, kenapa segitunya Ayu mempertahankan mobil yang telah membuat nyawa seseorang melayang? Bahkan, katanya sudah dua kali mengalami kecelakaan juga. Entah bagaimana kecelakaan sebelumnya, kenapa dia se-ngotot itu mempertahankan? Bukan kah lebih baik dijual saja agar tak terjadi hal tak diinginkan lagi? Bodoh sekali pemikiran perempuan itu.
Meski semisal mobil itu didapat dari hasil kerja keras pun, tapi kan mobil itu sudah membuat orang celaka. Sudah membuatku kehilangan calon istriku juga. Ada rasa kesal di saat dia tetap bersikeras dengan mempertahankan, sedangkan aku marah rasanya melihat mobil itu. Ingat akan Ella yang telah tiada. Yang seharusnya dia lah aku nikahi, tanpa harus aku mencari sosok lain.
Aku mengajukan surat perjanjian nikah, sama sekali tak ada bantahan dari perempuan itu. Dia hanya meminta tak mempermasalahkan perihal mobil. Baik lah, walau aku tak senang melihat mobil itu, aku membiarkannya mempertahankan mobil tersebut. Tapi jika terjadi sesuatu, biarkan dia menanggung resikonya sendiri. Tidak boleh menyeret aku dalam masalahnya.
Saat ini, aku berdiri di balkon kamar memandang gemerlapnya ibukota pada malam hari. Ayu tengah mandi, sedangkan aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Ingat akan pembicaraan dengan papa tadi pagi. Tidak, aku sama sekali tidak meragukan niatku. Mengenai akan bagaimana hubungan pernikahan kami ke depannya, aku akan memikirkannya lagi nanti. Yang pasti, aku tak akan membiarkan perempuan itu bahagia setelah membuat Ella meninggal dan sebagai bentuk balas dendamku atas rasa sakit hatiku dulu. Tak tahu sampai kapan, lihat saja nanti. Aku juga tak berniat lama-lama menikah dengannya, hanya ingin anak saja.
Berhubungan badan tanpa ada rasa, aku rasa tak akan ada masalah untuk itu. Meski aku membencinya, sebagai lelaki normal tetap ada nafsu kepadanya. Terbukti tadi ketika membantunya membuka resleting gaun. Tubuhku langsung bereaksi begitu jemari tanganku tak sengaja menyentuh punggungnya yang putih mulus itu. Jadi, bisa dipastikan jika aku tetap akan menyentuhnya untuk mendapatkan keturunan dan melampiaskan kebutuhan biologisku.
Kembali ke kamar, aku mendapati Ayu telah selasai mandi dan tengah mengeringkan rambut saat ini. Aku menuju tempat tidur dan merebahkan bersandar di headboard. Aku menoleh padanya sekilas. Dia cuek—sesantai itu berada di dalam kamar yang sama dengan seseorang yang membencinya? Dia tentunya sadar jika aku membencinya. Dan yang dia tahu, aku membencinya karena kematian Ella saja. Tanpa dia tahu jika ada penyebab lain yang membuatku sakit hati.
Aku membuka suara terlebih dahulu. Aku bilang padanya agar tidur di sofa saja. Aku tak ingin menyentuhnya dulu malam ini.
Dan apa katanya barusan? Tak berharap ada cinta muncul di antara kami, tapi menjalankan hubungan pernikahan ini dengan sungguh-sungguh?
Aku terkekeh di dalam hatiku. Sampai kapan pun, aku tak pernah sungguh-sungguh dengan pernikahan ini. Meski dia berkata begitu pun, dia pikir aku akan tersentuh? Sama sekali tidak. Rasa benciku padanya begitu besar. Tak akan luluh walau bagaimana pun sikapnya saat ini hingga ke depannya.
"Saya pinjam satu bantalnya, ya!" Perempuan itu telah selesai mengeringkan rambutnya saat ini. Dia tersenyum dan mendekat ke arah kasur. Aku benci sekali melihatnya berujar lembut dan tersenyum begitu. "Boleh pinjam nggak? Kalau nggak boleh, ya udah enggak apa-apa."
"Terserah. Pakai aja."
"Terima kasih."
"Nanti di rumah, kita juga akan tidur di kamar terpisah."
Dia mengangguk. "Saya mengerti. Kan saya sudah meletakkan pakaian dan barang-barang saya lainnya di kamar atas, sesuai perkataan kamu."
"Saya akan mengunjungi kamu jika membutuhkan tubuhmu," ucapku to the point. Aku rasa dia sudah paham akan isi surat perjanjain tersebut. "Tapi, kamu nggak boleh masuk ke dalam kamar saya kecuali untuk membersihkannya."
"Baik. Saya paham."
Aku mendengkus. Dia ini pasrah-pasrah saja karena memang merasa bersalah atau bagaimana? Pasalnya, aku ingat persis bagaimana mulut pedasnya itu melontarkan kata-kata hinaan untukku.
"Ada lagi yang ingin dibicarakan lagi, Mas?" Suara itu masih terdengar mengalun lembut bertanya. Yang bagiku, terdengar menyebalkan sekali. "Kalau enggak ada, saya izin mau istirahat. Kalau ada apa-apa, kamu bangunin saya aja."
"Nggak ada."
Aku menatap punggung perempuan itu yang tengah melangkah ke arah sofa. Apa aku jahat dengan menyuruhnya tidur di sofa? Aku rasa tidak. Untung masih bisa tidur dan tetap hidup, tidak seperti Ella yang sudah berada di dalam tanah sana.
Perempuan itu tampak langsung memejamkan mata di sana begitu sudah merebahkan diri di sofa yang cukup panjang dan empuk aku rasa juga. Mengingat kamar ini bukan tipe yang biasa saja.
Aku pun perlahan merebahkan diri. Aku memiringkan tubuhku menghadap ke arah perempuan itu. Walau lelah belakangan ini, aku tetap tak bisa langsung memejamkan mata. Tatap mataku tak lepas dari sosok perempuan itu, penasaran, apa yang tengah dia pikirkan saat ini? Dia sepasrah itu menerima segala sesuatu yang keluar dari mulutku atau kata-kata yang tertulis dalam bentuk tulisan, apa ada sebuah rencana yang terlintas di benaknya? Sulit rasanya untuk mempercayai dia yang bersikap lembut dan pasrah begitu.
Menit demi menit berlalu, dan aku masih tak bisa benar-benar tidur. Memejamkan mata, tapi pikiranku ke mana-mana. Beberapa kali berganti posisi tidur, tetap saja sulit untuk tertidur. Melihat jam pada ponselku, sudah menunjukkan pukul 1 malam.
Aku kembali memiringkan tubuhku, menghadap ke arahnya Ayu. Kali ini, tampak perempuan itu bergerak gelisah dalam tidurnya. Terdengar suara rintihin kecil.
"Jangan pergi... " Rintihan itu terdengar seperti isakan tangis. "Jangan tinggalin aku... "
Dia bermimpi buruk? Apa dia pernah ditinggalkan oleh kekasihnya, hingga terbawa ke alam mimpi?
Ngapain juga aku mikirin?
Aku berusaha memejamkan mata lagi. Namun, tidak bisa juga dan isakan itu terus terdengar. Aku pun beranjak dari tempat tidur dan menghampiri perempuan itu. Hingga aku melihat lelehan air mata di pipi perempuan itu yang bergerak gelisah di atas sofa tersebut. Terus menggumamkan kalimat yang sama.
Aku menarik napas. Apa yang sedang dimimpikan perempuan itu sebenarnya?
Tanganku terulur, menepuk-nepuk bahunya agar bangun. Aku memang ingin menyiksanya—ingin dia tersiksa olehku, bukan karena dirinya sendiri yang begini.
Perempuan itu terbangun. Dia tampak terkejut melihatku dan langsung mendudukkan diri.
"Mimpi buruk?"
"Saya?"
Aku berdecak. "Emang ada siapa lagi di sini selain kita?"
"Emangnya saya gimana barusan?"
Aku menggeleng. "Lupain." Aku menegakkan diri, hendak kembali ke arah tempat tidur. Baru beberapa langkah, aku kembali berbalik badan menghadap padanya. Ayu terlihat masih duduk. "Tidur di kasur aja, tapi jaga jarak dengan saya."
"Enggak usah, Mas. Saya di sini aja."
Aku berdecak. "Jangan bantah ucapan saya. Tetap lah hidup, karena kamu harus membayar apa yang telah kamu lakukan."
***
Aku bangun tidur dan merasa segar pagi ini. Semalam aku langsung tidur, setelah Ayu ikut bergabung di ranjang yang sama denganku.
"Pagi, Mas." Terlihat Ayu sudah segar dan melemparkan senyuman padaku, yang tentu saja tak akan aku balas senyuman pura-puranya itu.
Aku melihat jam, sudah pukul 8 pagi.
"Mau sarapan apa, Mas? Mau makan di restoran bawah, atau minta anterin ke kamar aja?"
"Saya mau makan di bawah aja."
"Oke. Gih mandi dulu! Saya udah siapin baju ganti, barusan ambil dari kopernya kamu. Maaf ya, Mas, saya hanya menjalankan tugas saya sebagai seorang istri."
"Hmmm."
Aku beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Setelahnya, kami turun bersama untuk sarapan. Kamar ini tipe president suite, bisa sebenarnya makan di bagian kamar ini yang terdapat meja makan dan kursi juga. Tapi, aku malas berhadapan berdua dengannya saja.
"Biar saya yang ambil makanan buat kamu, Mas. Kamu duduk aja. Mau makan apa?"
"Apa aja, terserah." Aku ikut bergabung dengan kedua orang tuaku yang telah berada di sini sejak beberapa menit yang lalu.
"Oke. Ditunggu ya, Mas Rakha." Perempuan itu tersenyum, lalu berbalik badan.
"Beruntung sekali kamu milih istri walau asal begitu, Kha." Mama mencelutuk.
Apa? Beruntung? Dari segi mananya beruntung? Dia yang seharusnya beruntung dinikahi olehku.
"Biasa aja."
Mama tampak mencebikkan bibirnya. "Ayu banget lho, dia itu. Sama kayak namanya, Ayu. Meski Mama bisa lihat sikap kamu itu dingin dan cuek sama dia, tetap tuh dia ngomongnya lembut, tersenyum sama kamu."
"Merasa bersalah aja dia itu."
"Ya... mungkin sedikit banyaknya ada rasa bersalah. Tapi, Mama bisa lihat ketulusan dari sorot matanya. Dia baik, Kha. Walau Mama belum lama kenal, tapi Mama seolah bisa merasakan gimana baik dan tulusnya dia. Terpaksa menikah sama kamu, mungkin aja begitu awalnya, cuma lama-lama kelihatan kalau dia setenang itu menjalani prosesnya. Dia menerima dan akan menjalankan tugasnya sebagai istri."
"Mama jangan terlalu memuji berlebihan begitu, kan kita nggak tahu gimana di dalam hatinya."
"Nggak gitu, Kha. Mama hanya menilai dari apa yang Mama lihat."
Mama tak langi berbicara ketika Ayu sudah kembali membawa roti bakar, omelette, lalu salad sayur ke hadapanku. "Nggak tahu kamu sukanya apa, Mas. Tapi, ini sehat dan bagus buat kamu. Ingat pas kita ke mini market, kamu bilang nggak makan sembarangan."
"Terima kasih," ucapku tanpa menoleh.
"Saya ambilkan air putih dulu."
Aku tak menyahut.
"Mama dan Papa mau aku ambilkan sesuatu?" tanyanya pada orang tuaku.
"Enggak usah, Ayu. Mama dan Papa cukup ini aja, enggak bisa sarapan banyak-banyak."
"Oke, Ma."
Mama kembali berbicara lagi setelah Ayu berlalu. Berbicara sambil menatap ke arah perempuan itu.
"Dia memang salah karena mungkin kurang hati-hati dalam mengemudi. Tapi, itu juga bukan maunya dia mengalami kejadian begitu. Kha, Mama percaya kalau Ayu adalah seseorang yang tepat buat kamu. Ella memang baik, tapi Ayu juga baik dan keibuan. Dia juga bisa memasak, cocok sama kamu yang suka masakan Indo rumahan. Apa pun tujuannya menikahi dia, Mama berharap kamu hanya akan menikah sekali seumur hidupmu. Jika sudah lama waktu berjalan dan kamu juga nggak mencintai istrimu sendiri, kembalikan dia kepada keluarganya. Mungkin ada seseorang di luar sana yang diam-diam berharap bisa hidup bersamanya dan ingin membahagiakannya."