Rakha's PoV
Ayu banyak berbicara ketika mobilku baru saja melaju. Perempuan itu ingin terlepas dariku berkata seperti itu? Tidak... aku tak akan melepaskannya begitu saja. Kenapa harus menikahinya? Selain karena malas mencari orang baru lagi, alasan utamaku adalah untuk membuatnya menderita hidup bersamaku. Karena cerita masa lalu dan juga karena meninggalnya Ella. Tinggal seatap dengannya, akan lebih leluasa bagiku untuk membuatnya menderita.
Aku tentu saja tak berniat hidup selamanya dengan perempuan itu. Perempuan yang telah menghinaku pada masa lalu tersebut. Nanti setelah aku merasa puas melihat penderitaannya, aku akan membuangnya begitu saja. Lalu, dia akan menjadi seorang janda. Mantan primadona sekolah yang dicampakkan oleh suaminya. Serua sekali sepertinya jika berita itu heboh di kalangan alumni. Tentunya, sebelum itu aku butuh anak darinya juga. Hal yang kakekku inginkan. Aku rasa, tak akan masalah nanti berhubungan suami istri dengan seseorang yang aku benci. Aku hanya butuh tubuhnya, tak akan tertarik dengan fisiknya. Cukup dulu saja aku yang bodoh pernah begitu menyukainya, tidak untuk masa sekarang. Yang ada, hanya lah sebuah kebencian untuknya.
Apa katanya barusan? Menyebutku memiliki fisik yang sempurna? Ganteng?
Aku rasanya ingin tertawa kencang di depan muka perempuan itu. Ingat akan kata-kata yang terlontar dari mulutnya dulu, jelek, hitam, gendut dan cupu. Juga menyuruhku untuk berkaca. Lantang sekali mulutnya menghina dengan tatapan meremehkan. Andai dia tahu bahwa saat ini lelaki yang berada di dekatnya adalah orang yang dulu dihinanya, akan bagaimana reaksinya? Pasti tak menyangka sekali karena fisikku berubah drastis. Aku masih menggunakan kacamata, tapi saat-saat tertentu, ketika bekerja atau mengendarai mobil pada malam hari misalnya. Minusku tak separah dulu, tapi tetap harus menggunakan kacamata pada saat-saat tertentu.
Tubuhku tak lagi gendut. Aku rajin olahraga menjaga bentuk tubuhku, juga diimbangi dengan pola makan yang sehat. Dulu sepertinya maasih sekolah dan hanya memikirkan pelajaran serta menyukainya diam-diam, aku abai dengan penampilanku. Namun, setelah itu aku bertekad untuk berubah menjadi lebih baik. Warna kulitku lebih cerah tinggal di luar negeri. Memang dulunya waktu kecil, aku itu kulit aslinya putih kata mama.
Ayu turun lebih dulu dari mobil dan aku mengikuti langkahnya. Aku mengambil sebuah keranjang.
"Beli buat pembersih lantai, detergent juga sekalian. Terus, buat cuci piring. Tadi cuma ada satu yang kamu pakai itu, bukan?"
"Iya."
Aku mengikutinya yang melangkah ke sebuah lorong. "Nggak usah banyak. Nanti kamu bisa belanja bulanan setelah menikah, kamu list sendiri karena saya nggak mau tahu apa pun. "Kalau minuman, beli aja yang buat hari ini. Nanti ke depannya, kamu urus sendiri mau cari di mana buat galon dispenser."
Perempuan itu mengangguk. Dia mengambil keranjang dari tanganku.
"Mau beli mie instant?"
"Saya nggak makan yang nggak sehat begitu. Kalau kamu, terserah mau makan apa juga. Tapi kalau mau belanja yang banyak, nanti aja pas belanja bulanan."
"Oke."
Aku melihat jam di pergelanfan tanganku yang mana telah menunjukkan pukul setengah lima saat ini. Aku berniat beli makanan untuk malam sekalian, pasti akan lama perempuan itu membersihkan rumah dan aku harus menunggu di sana. Ingin memastikan apa kah dia benar-benar mengerjakan semuanya. Jika aku tinggalkan, nanti dia akan membersihkan seadanya saja.
"Kamu akan saya natar ke rumah dulu, setelahnya saya akan mencari makan sendiri," ujarku saat kami sudah keluar dari mini market.
"Iya."
"Meski saya nggak keluar sebentar, saya akan cek nanti apa semuanya kamu bersihkan atau tidak." Lama lagi jika aku mengajaknya membeli makanan. Dia harus melanjutkan tugasnya membersihkan rumah. Terserah aku mau membeli makanan apa pun tanpa bertanya. Aku tak akan mengikuti apa yang dia mau. Dia yang harus mengikuti apa pun yang aku mau.
***
Usai maghrib, Ayu tampak menuruni tangga ketika aku sedang duduk di sofa ruang tengah. Mukanya tampak lelah, tapi aku sama sekali tak peduli. Biarkan saja, itu sudah tugasnya yang harus dikerjakan. Agar terbiasa juga nanti. Tapi, aku cukup puas dengan apa yang telah dia kerjaakan. Kamar utama tampak bersih dan wangi. Kamar mandi pun juga. Tampaknya dia memang sudah terbiasa membersihkan rumah. Mungkin sejak pindah? Tak lagi kaya dan tak memiliki asisten rumah tangga. Jadi, si sombong satu itu mau tak mau harus mengerjakan tugas rumah. Bisa jadi bagi tugas dengan orang tuanya. Entah sejak kapan perempuan itu pindah, sepertinya sudah cukup lama. Terlihat bahwa dia tampak luwes memegang sapu dan pel'an, seperti asisten rumah tangga yang aku pekerjakan sebelumnya.
"Makan dulu sana!" ujarku padanya saat dia sudah menuruni tangga. "Saya nggak mau kamu pingsan dan tugas rumah nggak selesai. Isi dulu tenagamu sebelum lanjut lagi membersihkan apa yang belum kamu bersihkan."
"Apa nggak bisa lanjut besok aja, Mas? Saya bisa menginap di sini dan mengerjakannya besok pagi."
Tadi, dia tak ada protes saat aku meminta membersihkan semuanya. Sekarang, tiba-tiba menawar? Enak saja.
"Nggak ada tawar-menawar! Saya mau hari ini juga selesai, nggak peduli udah malam pun. Besok saya ada urusan, nggak bisa nungguin kamu."
"Saya pasti akan kerjakan."
"Nggak. Harus malam ini juga."
"Ya udah." Perempuan itu melangkah menuju ke arah dapur.
Aku bangkit berdiri, menuju meja makan yang terletak di dapur. Aku duduk di salah satu kursi.
"Makan sekarang!" seruku padanya yang sedang lap bagian dekat wastafel. "Saya nggak suka kalau nggak didengar, Ayu!"
Good. Perempuan itu pun menghentikan aktivitasnya. Dia mencuci tangan, lalu mendekat ke arah meja makan.
"Makan di sini aja," ujarku padanya saat mengambil sebuah kotak makan. "Saya akan pantau makannya kamu, biar nggak lemas dan alasan nantinya nggak bisa lanjut bersih-bersih."
Perempuan itu menurut. DIa menarik kursi di seberangku, kemudian duduk.
"Ada beberapa makanan yang saya enggak suka, nanti kamu harus catat dan hapalkan. Saya enggak mau makan makanan sembarangan. Dan juga, setiap hari wajib ada buah."
"Baik."
Tak ada lagi pembicaraan di antara kami setelahnya. Masing-masing mulai makan dalam diam. Sesekali aku melirik padanya, perempuan itu tampak menunduk saja. Fokus pada makanannya. Tiba-tiba aku penasaran. Tadi Ayu berkata bahwa fisikku sempurna—ganteng. Dia mengakui kelebihan fisik yang aku memiliki, tapi apa ada rasa tertarik secara fisik padaku di sela rasa kesalnya? Aku tahu, dia pasti ada kesal padaku diam-diam.
Lelaki tampan dan kaya raya, pasti yang seperti itu tipenya. Aku yang sekarang mungkin saja termasuk dalam kriteria tipe idamannya. Hanya saja, dia sadar diri karena tahu aku begitu membencinya terkait kematian Ella.
Aku selesai makan lebih dulu dan langsung mencuci tangan di wastafel. Setelahnya, aku langsung menuju sofa di ruang tengah kembali. Saat sudah duduk dan menoleh ke arah belakang, tak lama Ayu pun bangkit berdiri. Aku kembali melihat ke arah TV yang menyala ketika Ayu melanjutkan pekerjaannya kembali, mulai menyapu di sekitarku.
"Mas, setelah ini saya mau bersihin kamar satu lagi, apa dikunci?"
"Nggak. Langsung masuk aja!"
"Oke."
Aku memperhatikan gerak-gerik perempuan itu, tak fokus ke arah layar TV yang menyala di depanku. Seorang Ayu Saras yang sombong waktu sekolah, sekarang terlihat seperti pembantu di mataku.
Waktu berlalu dan tak terasa sudah menunjukkan pukul 9 malam begitu Ayu selesai mengerjakan semuanya. Aku cek ke lantai dua—semuanya, aku manggut-manggut. Cocok memang perempuan itu menjadi babu di rumah ini, mengerjakan seluruh tugas rumah dan melayani kebutuhan pribadiku juga nanti.
Jam 9 lewat, mobilku pun berlalu meninggalkan rumahku. Tadinya ingin menyuruhnya pulang sendirian saja, tapi aku urungkan. Dia tak boleh kenapa-napa di jalanan pulang. Aku belum selesai membuatnya menderita, dan hanya aku yang boleh membuatnya begitu.
Belum lama mobilku melaju, aku melirik sekilas dan mendapati Ayu tertidur. Hingga kepalanya terbentur ke bagian pintu mobil di sebelahnya, tapi matanya tetap terpejam saja. Aku mendengkus, ternyata cantik-cantik begitu tidurnya kebo. Aku menghentikan mobiku sejenak di pinggir jalan. Aku hendak merebahkan jok yang didudukinya. Aku terpaku sejenak menatap wajahnya ketika akan merebahkan jok tersebut.
Cantik sekali. Sangat-sangat cantik meski tak ada lagi polesan lipstik di bibirnya dan juga wajahnya putih tanpa riasan apa pun. Wajahnya masih sama cantiknya seperti dulu. Tanganku terulur hendak menyentuh wajah tersebut, penasaran bagaimana rasanya. Hingga aku tersadar dan langsung menarik tanganku menjauh.
Aku mengusap wajahku kasar. Sadar, bahwa perempuan yang sedang memejamkan mata tersebut telah membuat calon istriku sesungguhnya meninggal dunia. Dia juga merupakan perempuan yang telah menghina fisikku dulu. Aku tak akan jatuh cinta padanya untuk kedua kali. Tidak kepada seorang pembunuh, mau secantik apa pun dirinya.