Ayu's PoV
Aku hanya berusaha menjadi istri yang baik, kodratnya istri sesungguhnya. Tak hanya melayani kebutuhan suamiku sebagai bentuk taat, aku juga ingin menyalaminya setiap berangkat kerja atau ke mana pun. Memberikan senyum dan mendo'akan setiap langkah yang dia akan tempuh setiap harinya. Ya... mesti menikah tanpa cinta, tapi aku tidak mempermainkan pernikahan. Aku menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Dan, aku juga akan berusaha mencintainya walau sekarang pastinya masih sulit karena nama Kak Elang masih bersemi di dalam seni. Namun, aku harus bisa mencintai suamiku sendiri, seseorang yang telah menjadi pasangan halalku. Mau tak mau, aku hidup bersamanya dan sudah seharusnya bersikap selayaknya istri. Melanjutkan sisa hidupku.
Walau sikapnya lelaki itu tak bersahabat dan selalu berkata sinis, tak apa. Aku sangat mengerti. Kata-kata sinis yang keluar dari mulutnya, aku terima segalanya tanpa adanya bantahan. Sambil aku berdo'a, semoga lama-kelamaan hatinya diperlembut. Tak lagi ada kebencian dan rasa dendam.
Tanganku kembali aku tarik saat Rakha tak menyambut niatku yang ingin menyalaminya. Aku tersenyum, selalu legowo atas sikapnya. Tak mudah bisa menerima kepergian seseorang yang dicintai, aku pun juga begitu. Berbulan-bulan sampai sekarang pun masih terbayang-bayang akan Kak Elang. Bedanya, aku tak ada menyalahkan siapa pun atas kecelakaan yang menimpa Kak Elang. Dia tak sengaja ditabrak oleh sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi, tak ada aku menyalahkan pengemudi tersebut. Aku hanya bersedih, kenapa dia meninggalkanku sendirian tanpa pamit.
Setelah Rakha berangkat kerja, aku berbenah rumah dulu sebelum mengambil mobil di rumah orang tuaku. Aku baru jalan dari rumah sekitar jam 10’an setelah semua tugas rumah selesai dan sarapan juga. Untuk makan siang, aku akan makan di luar sana sebelum ke salon. Tak makan di rumah orang tuaku, karena menghindari obrolan yang membuatku sakit kepala. Bohong jika aku tidak kepikiran apa pun yang keluar dari mulutnya mama.
Tiba di rumah, disambut oleh mama yang membukakan pintu dengan wajah cemburut.
“Udah punya suami kaya, kenapa kamu masih ngurusin mobil itu, sih?” Mama menyuruh untuk menjual mobil ini dan ganti yang baru, tidak apa-apa lebih murah katanya. Tapi, dia ingin mobilnya ditaruh di rumah saja, untuk keperluan di rumah. “Jual aja. Perhitungan banget kamu ini sama kami. Kurang apa kami selama ini membesarkan kamu puluhan tahun? Cuma minta mobil aja buat pergi-pergi, seperhitungan itu kamu?”
Aku mendesah. “Kapan aku pernah perhitungan, Ma? Aku selalu mengusahakan apa pun, walau sisa gajiku pas-pasan setiap bulannya.”
“Apanya yang nggak perhitungan begitu? Dia udah meninggal dan orang tuanya juga tinggal di luar negeri sana, buat apa kamu pertahankan mobil yang udah dua kali kecelakaan itu? Mau ketiga kalinya? Kamu masih berniat pengen menyusul dia ke alam sana dengan kecelakaan juga?”
“Mobil itu sangat berharga bagi aku. Kenapa Mama nggak ngerti juga?” tanyaku lirih. Berkali-kali aku menjelaskan, mama seolah menolak mengerti apa yang aku rasakan. “Yang berhubungan dengan Kak Elang, nggak semudah itu bisa aku lupakan.”
Mama mendengkus. “Ingat kalau kamu itu udah punya suami! Hargai suami kamu itu, jangan ingat-ingat masa lalu terus. Gimana mau bisa ambil hatinya suami kamu, kalau kamu terus ingat masa lalu? Udah deh, jual aja! Kamu jaga-jaga juga nggak akan bikin dia hidup lagi, dan kamu juga sudah menikah.”
Aku paham posisiku sebagai istri. Aku akan menjalankan tugasku sebagai istri, apa pun itu. Tetapi, posisi Kak Elang di hatiku itu spesial dan kenangan tentangnya tak bisa aku lupakan begitu saja.
“Aku langsung jalan lagi ya, Ma. Cuma mau ambil mobil aja ke sini, karena ada keperluan lagi setelah ini.”
“Keterlaluan benar kamu, ya! Enggak bisa dibilangin. Nggak tahu balas budi.”
Aku menulikan pendengaranku. Aku langsung salaman walau mukanya mama masam, tetap menghormatinya. Berdebat dengan mama tak akan ada habisnya. Mama tak akan mau mendengar apa pun yang keluar dari mulutku, tak jauh berbeda dengan Rakha.
Dari rumah, aku menuju salah satu klinik kecantikan. Semalam aku sudah mencari-cari browsing. Ada satu yang aku lihat review-nya bagus dan tak jauh dari rumah juga. Aku memutuskan untuk perawatan di sana saja, melakukan perawatan tubuh secara menyeluruh dari kepala hingga ujung kaki. Tak ingin Rakha nanti mengira jika aku memanfaatkan uangnya untuk hal lain tanpa melakukan perawatan. Pertama akan perawatan tubuh dulu, baru setelahnya ke salln satu lagi untuk hair care. Yang pasti melakukan serangkaian kegiatan itu butuh berjam-jam.
Menjelang sore baru selesai, sekitar jam setengah empat. Aku sudah sempat makan sambil menunggu serangkaian perawatan tadi. Aku segera pulang, ingin memasak. Rakha tak membalas pesanku saat aku tanya pulang jam berapa dan apa ingin aku memasak sesuatu, tetapi tetap aku akan memasak. Tak lama memasak yang ukuran dua porsi juga. Takutnya dia tiba-tiba pulang. Dan jika aku tak masak, dia akan marah-marah. Jadi, lebih baik mempersiapkan saja.
Menjelang maghrib, aku sudah selesai masak dan juga mandi. Tetap ingin kelihatan segar walau tadi sudah perawatan, setidaknya bisa menarik perhatiannya sscara fisik walau hatinya tetap membenciku. Tak apa.
Bunyi suara mobil berhenti, aku bergegas ke arah pintu. Rakha pulang, dan aku tersenyum menyambut kedatangannya. Tapi, lagi, dia tak menyambut uluran tanganku yang hendak menyalaminya. Sama seperti tadi pagi.
Nggak apa-apa, Yu. Sabar aja…
Sudut bibirku kembali terangkat dan mengikuti langkah kakinya menuju kamarnya. Ingin menyiapkan pakaian ganti untuknya.
Hidup se-atap dengan orang yang tak menyukai kita, tak akan mudah memang. Aku sangat mengerti. Sudah terbiasa selama ini hidup di keluarga yang tak menginginkanku. Membesarkanku dengan memberi segalanya, akan tetapi mengungkit apa yang diberikan dan meminta balas budi. Puluhan tahun, sepertinya tulus mereka hanya di awal saja. Setelah Disa lahir dan mulai bertambah usianya, mereka tetap memberikanku apa pun, tetapi tidak lagi dengan kasih sayang dan perhatian.
***
“Maafin aku, Kak.” Aku menyeka air mataku sambil menatap fotonya Kak Elang pada ponselku. “Aku menebus kesalahanku dengan menikah dengannya, dan sekarang aku harus menjalankan tugasku sebagai seorang istri. “Malam ini, aku akan menyerahkan diri seutuhnya kepada laki-laki lain. Maaf.”
Terdengar pintu diketuk dan aku langsung menaruh ponselku. Aku menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Harus siap, sebentar lagi mahkota yang aku jaga puluhan tahun akan diambil oleh suamiku. Memang haknya, yang tak boleh aku tolak walau pun tiada cinta darinya.
Rakha langsung masuk begitu saja, setelah aku membuka pintu dan sedikit menggeser posisi tubuhku ke samping.
“Matiin lampunya dan ganti sama lampu tidur,” ujarnya yang telah duduk di pinggir tempat tidur.
Aku mengangguk. Aku menyalakan lampu tidur yang mimin cahaya terlebih dahulu sebelum mematikan lampu utama.
“Duduk sini!” Rakha menepuk-nepuk sisi kosong di sebelahnya.
Aku mendadak gugup. Padahal kemarin-kemarin itu tak ada seperti ini. Perlahan, aku melangkah ke arahnya. Duduk di sisinya.
“Masih perawann?”
Aku mengangguk. Apa dia tak akan menyentuh jika aku bilang ‘tidak’ barusan?
“Serius?” tanyanya dengan alis terangkat.
“Semisal saya enggak perawan, apa kamu enggak akan menyentuh saya?”
Lelaki itu terkekeh sinis, sejenak. Kemudian, dia menatapku tajam dengan tangannya yang meraih daguku hingga aku mendongak. “Apa yang sedang kamu pikirkan? Mencari cara supaya tidak saya sentuh?”
Aku menggeleng. “Saya cuma tanya.”
“Nggak akan ada yang bisa mengubah keputusan saya, termasuk untuk menyentuh kamu. Sekali pun kamu bekas orang pun. Saya cuma butuh anak dari kamu, dan ya… mungkin untuk pemuas hasrat saya.”
“Lakukan.” Dengan tangan agak gemetar, aku menurunkan gaun tidurku.
Aku kira lelaki itu akan berpikir panjang, ternyata tidak. Dia langsung menyerangku, mencium bibirku.
“First kiss, hmm?”
Aku tak menyahut.
Lelaki itu terkekeh. Dia mengusap bibir bawahku, kembali mencumbu setelah membuka bajunya. Dia mendorongku hingga terlentang dan ditindih olehnya tanpa menahan bobot tubuhnya, kulit beradu kulit yang mana aku hanya mengenakan pakaian dalam saja dan dirinya juga sama. Dia terus-terusan menciumi seluruh wajah hingga ke bagian leherku. Aku memilih untuk memejamkan mata saja.
“Buka matamu dan lihat saya!!”
Memangnya bisa dibantah?
Aku membuka perlahan mataku dan mendapati lelaki itu menyeringai.
“Not bad. Saya suka tubuh kamu yang wangi, putih mulus dan bersih. Jangan lupa terus rawat untuk memuaskan saya. Setidaknya dibalik rasa benci, ada tubuhmu yang saya pertimbangkan.”
Aku diam saja, tak tahu harus merespon apa.
Dan dia kembali menunduk menciumi setelah memintaku untuk membuka bra-ku.
Aku menerima bagaimana Rakha yang menyentuhku tanpa kelembutan. Berharap apa memang? Dia hanya menyalurkan hasrat—ingin membuatku hamil, menyentuh tanpa ada rasa cinta. Menyentuh dengan hati yang membenci.
Bibirku agak kebas rasanya. Dia terus-terusan mencium seolah ingin melahap habis, menghisap kuat bibir atas dan bawahku bergantian tanpa ada balasan dariku. Ini bukan berciuman, tapi dia melampiaskan emosinya dan aku hanya bisa menerima. Belum lagi remasan tangannya pada dadaku terasa begitu kuat. Nyeri terasa, yang mana rasa sakit tersebut aku tahan dalam diam.
Protes? Tidak akan didengar pastinya. Tugasku sebagai istrinya adalah mengerjakan seluruh tugas rumah serta melayaninya, tak boleh ada bantahan.
Rakha tak henti-hentinya mencumbu seluruh bagian tubuhku.
“Ayu… “ Lelaki itu mendongak.
“Ya?”
Lelaki itu menggeleng, kembali meraih bibirku. Tak terhitung kali. Sampai pada akhirnya, dia melepas satu-satunya pelindung pada tubuhku. Aku pun reflek memejamkan mataku.
“Lihat saya!! Kamu harus selalu membuka matamu ketika saya sentuh!”
“Mas, tolong pelan-pelan… “
Lelaki itu hanya merespon dengan sebuah kekehan sambil membuka celananya. “Setakut itu, huh? Kamu bayangin nggak, setakut apa calon istri saya waktu kecelakaan saat itu? Nggak ada apa-apanya dengan keperawanan kamu yang akan saya ambil. Nggak usah banyak protes!”