Arya melangkah pasti memasuki ruangan Edward, menuruti perintah sang CEO yang baru saja menghubunginya. Namun pandangannya segera menyipit saat menyadari ruangan itu tidak sepi—Wira dan Elisa juga hadir, seperti bayang-bayang yang tiba-tiba muncul tanpa diundang. "Ada apa lagi? Kenapa kalian semua di sini?" tanyanya, suara dan tatapannya menusuk penuh kecurigaan. Elisa menatap tajam, nada bicaranya penuh sindiran, "Apa begitu caramu menghormati keluarga dan orang tuamu sendiri, Arya?” ucapnya dingin, seolah menampar gengsi sang putra dengan kata-katanya. Namun, Wira cepat-cepat mengangkat tangan, memberi isyarat pada Elisa untuk berhenti berbicara. "Duduk!" pintanya tegas namun menenangkan, matanya beralih pada cucunya yang semakin dekat. Arya menghela napas berat, perlahan menurunkan

