Bab 44

1467 Words

Pagi di Puncak datang dengan udara yang jauh lebih dingin dibanding hari sebelumnya. Kabut masih menggantung tipis di antara pepohonan dan perbukitan, sementara matahari baru saja muncul dari balik lembah, menyinari perlahan halaman villa yang luas. Dari balkon kamar lantai dua, pemandangan itu terlihat begitu damai. Suara burung yang terbang rendah dan angin yang bergerak pelan di antara dedaunan menjadi satu-satunya suara yang terdengar di pagi yang tenang itu. Kirana berdiri di balkon kamarnya dengan sweater tipis yang ia kenakan sejak bangun tadi. Rambutnya masih sedikit berantakan karena baru saja ia ikat seadanya. Ia memegang pagar balkon kayu dengan kedua tangan, menatap ke arah halaman villa di bawah. Nafasnya keluar dalam bentuk uap tipis karena udara yang begitu dingin. Ia menc

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD