Perjalanan pulang dari pesta berlangsung dalam keheningan yang panjang. Mobil melaju membelah jalan kota yang sudah mulai sepi karena waktu hampir melewati tengah malam. Lampu-lampu jalan memantul di kaca jendela mobil, menciptakan bayangan yang bergerak perlahan di wajah Kirana. Ia duduk di kursi penumpang dengan punggung bersandar, kedua tangannya terlipat di pangkuan. Sepatu habk tinggi yang sejak tadi ia pakai membuat kakinya terasa pegal, tetapi ia terlalu lelah untuk memikirkan hal-hal kecil seperti itu. Pikirannya masih dipenuhi kejadian di restoran, terutama kata-kata dua wanita yang mengejeknya di depan banyak orang. Ia menatap jalan di depan tanpa benar-benar melihat apa pun. Sesekali ia melirik Tora yang menyetir dengan fokus, wajahnya tetap tenang seperti biasa. Lelaki itu tid

