133 | Ambang Pintu

2707 Words

“Oh,” katanya pelan. “Jagat.” Saat berpapasan, Sierra berucap lebih dulu. Tapi kala langkah berhenti berpijak, Jagat yang duluan. Sebetulnya bukan karena ada yang belum selesai, sebab sudah jelas-jelas hubungan itu diakhiri dan yang tersisa adalah kenangan pahit. Tentu dengan sesal dan rasa bersalah yang bersemayam di Jagat, ini pasti akan dibawa mati. Sebagai manusia yang hatinya tidak beku, sebagai bentuk penghargaan atas luka-luka di hati perempuan yang Jagat torehkan. But, tak lebih dari itu bila kepada Sierra. Ya, wanita yang berdiri berhadapan dengannya. “Sierra,” jawab Jagat, suaranya netral. I mean, tak ada rasa atau getar-getar tertentu. Tak bertajuk manis atau kecut. Biasa saja biasa. Dan tolong jangan bicara soal CLBK, karena setitik detak yang dulu pernah hinggap menggebu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD