Bulan Madu Penuh Gairah

1443 Words

Mobil sport itu akhirnya berhenti dengan halus di atas kerikil putih, suara mesinnya perlahan-lahan mereda dan kemudian senyap. Donzello mematikan mesin, dan untuk sesaat, yang terdengar hanyalah desau angin laut yang menggoyangkan daun-daun pepohonan dan debur ombak dari balik dinding batu. Rumah pantai itu, berwarna putih dengan atap biru, berdiri anggun di pinggir pantai, menatap laut yang membentang tak berujung, biru dan berkilauan di bawah matahari sore musim panas. Donzello tidak langsung bergerak. Matanya yang tajam seperti elang, menyapu pemandangan itu, tetapi tidak benar-benar melihatnya. Pikirannya tertuju pada satu hal, satu orang, yang duduk di sampingnya. Zelaza. Dia masih seperti di dalam mimpinya—kulitnya yang indah dan hangat, rambut indah panjangnya yang diikat l

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD