Irene bangun dari tidurnya karena merasa haus. Sialnya di kamar tidak ada minuman yang tersedia, sudah habis tadi sebelum tidur. Terpaksa dia harus keluar kamar. Seolah sebuah kebiasaan, Irene akan mengecek kamar tiap orang, khususnya saudaranya. Melihat Adrian yang sudah tidur, begitupun dengan Irisha. Namun, Jullian belum ada. Dengan wajah yang ngantuk, menuruni tangga sambil menelpon saudaranya. “Abang dimana?” khaawatir tetap saja melanda meskipun Jullian sudah dewasa. “Abang lagi diluar, masih sama Lucy.” “Ini udah jam berapa tau! Pulang!” “Abang udah bilang kok sama Daddy. Ayahnya Lucy ini pengusaha juga, dia ngajak abang ke tempat proyeknya yang baru jadi, ada perayaan di sana. daddy bilang harus nyari relasi yang nguntungin. Dan karena abang sayang Lucy, mau keberadaan Lucy itu

