Wanita itu terdiam. Matanya menatap Haris yang terbaring dengan napas tersengal, wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya. Dia menelan ludahnya, kepalanya juga terasa pusing karena tadi dia paksa untuk menegak alkohol, dan dia tak lagi memiliki tenaga untuk membantu pria ini ke rumah sakit. Tvbuhnya jga benar-benar lemas. Kekuatannya tadi hanyalah untuk kabur dari kejaran orang-orang yang berusaha menjebaknya. "Akhhhh!" Nafas Haris tersengal-sengal, membuatnya menyentuh dahi Haris. "Kamu baik-baik saja? Apa yang bisa saya lakukan untukmu?" Ucapnya akhirnya setelah sekian lama terdiam. "A-aku tidak kuat, tolong aku...seseorang memberiku obat..." ulang Haris dengan terbata-bata. "Lalu, aku harus?" Wanita itu menjeda kalimatnya dan menautkan dahi, seketika kedua netranya membu

