“Mama, Papa lagi ngapain ya?” mata Mika menerawang memandang langit-langit kamar mereka. “Gimana kalau Papa lagi sakit? Siapa yang bantu ngerawat Papa?” Citra tercekat. Tak pernah terlintas pikiran itu di kepalanya selama ini. Suaminya termasuk jarang sakit. Atau lebih tepatnya jarang mengeluh sakit. Suami? Benarkah masih seperti itu hubungan mereka saat ini? Bukankah sudah ada perempuan lain yang menggantikannya? “Mika rindu Papa. Mama rindu papa, tidak?” Mika kembali berceloteh. Ia kini sudah memeluk gulingnya dan membelakangi Citra. Citra terdiam. Bohong kalau ia bilang tidak rindu. Tentu saja ia rindu laki-laki itu. Suaminya. Belahan jiwanya. Tapi bukankah telah ada perempuan lain dari masa lalu Raka yang menemaninya. Dan Citra harus dengan suka rela menyingkir. Waktunya dengan Raka

