"Apa? aku hamil? " Vania seolah tak percaya bahwa kini dia sedang mengandung benih dari Daddy Arthur di dalam rahimnya. Sama halnya dengan Daddy Arthur. Matanya berkaca-kaca karena harapannya untuk memiliki seorang anak akhirnya akan segera tercapai di usia setua ini. Padahal dulu dia sudah pasrah jika Tuhan tidak mengizinkan dirinya untuk memiliki seorang anak seumur hidupnya karena rahim Rebecca sudah diangkat karena penyakit kista yang dideritanya. Sekarang harapan itu sudah mulai terlihat di depan matanya. Sebentar lagi dia akan menyandanh gelar sebagai seorang ayah, dia akan memiliki anak kandungnya sendiri. Hari itu juga dia memanggil dokter kandungan serta membawa alat-alat yang mendukung untuk pengecekan kehamilan seperti monitor USG dan lain-lain agar lebih mudah saat pengecek

