Jujur, Fiona masih syok dengan sikap Deni yang untuk pertama kalinya cenderung kasar padanya. Bukannya apa-apa, sebelumnya pria itu tak pernah begini sebelumnya. Apalagi Deni secara terang-terangan membela mantan istrinya, bagaimana mungkin Fiona bisa menerima ini semua? Tentu saja wanita itu tak terima. Setelah menghapus air mata sepenuhnya, Fiona yang selama beberapa saat telah mencoba menenangkan diri, kini bergegas ke kamar untuk mengejar suaminya. Ia yakin pembicaraan mereka belum selesai. “Mas, kenapa kamu berubah?” tanya Fiona yang kini berada di ambang pintu. Kali ini nada bicaranya agak pelan. Ia melihat Deni sedang sibuk dengan ponselnya. “Kenapa kamu jadi begini?” tambahnya. Deni meletakkan ponselnya ke saku, kemudian menghampiri Fiona. “Sialnya aku juga tidak bisa memahami i

