Suasana di dalam ruang rawat itu mendadak terasa dingin. Tatapan Elang dan Dirga bertemu di udara, seolah memercikkan sesuatu yang tak terlihat. Ketegangan itu membuat mual Salsa semakin menjadi. Dirga, dengan ketenangan khas dokter senior, akhirnya memecah keheningan sambil menyiapkan stetoskopnya. "Salsa, bisa bantu saya sebentar? Saya mau periksa tekanan darah dan ritme jantung Kakek lebih detail," ucap Dirga. Matanya lalu melirik Elang dengan datar. "Pak Elang, kalau tidak keberatan, bisakah Anda menunggu di luar sebentar? Saya butuh ruang gerak yang cukup, dan sepertinya saya hanya perlu Salsa untuk membantu prosedur pemeriksaan ini." Elang tidak bergerak sedikit pun. Rahangnya mengeras. Permintaan itu terdengar seperti pengusiran halus baginya. "Saya suaminya. Saya rasa saya punya

