Bukan pulang ke rumah. Bukan ke apartemen. Melainkan ke sebuah hotel tenang di kawasan SCBD, yang jauh dari hiruk pikuk pesta reuni. Hotel itu berdiri elegan dengan lobby bernuansa hangat, penuh pencahayaan amber dan suara musik jazz yang nyaris seperti bisikan. Seolah tahu bahwa tamunya malam ini bukan hanya mencari tidur, tapi juga pelarian. Tasha memesan satu kamar dengan suara rendah dan senyum sopan, lalu naik ke lantai atas, lantai 17, di mana sky bar hotel itu berada. Di sana tidak terlalu ramai. Hanya beberapa tamu asing dan pasangan yang larut dalam obrolan pelan. Ia mengambil tempat di ujung bar, menghadap jendela besar yang memamerkan gemerlap lampu kota. Tanpa ragu, ia menyapa bartender pria yang berdiri ramah. Pria itu berkemeja putih rapi, dasi kupu-kupu, dan sorot mata pe

