Kalimat itu membuat Tasha menegang. Dalam bayangannya, nama Tirwanegara seperti nama tokoh dari cerita zaman colonial yang berwibawa, keras kepala, dan dingin. Sosok yang jika menatap saja, bisa membuat darah membeku. Terlebih malam ini mereka akan makan malam di sebuah restoran mewah yang menyediakan ruang privat eksklusif, lengkap dengan pelayan pribadi dan protokol keluarga ningrat. Tasha nyaris ingin memutar balik... andai saja bukan karena angka saldo di rekeningnya yang masih segar. Ketika mobil berhenti dan pintu dibuka oleh pelayan, Varrel lebih dulu keluar lalu mengulurkan tangan. Tasha dengan gaun marun elegan, rambut disanggul rapi, dan heels tinggi, membiarkan tangannya digenggam. “Jangan pake lo-gue kalau sama mereka.” “Iya, paham.” Mereka melangkah berdampingan menuju pin

