Dengan langkah terburu dan suara gerutuan tertahan, Tasha berlari ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Detik berikutnya, suara muntahnya menggema, keras dan kacau, memantul di dinding keramik putih. Tak jauh dari sana, Varrel yang tertidur di sofa ruang tengah langsung terbangun. Satu tarikan napas saja cukup untuk mengenali suara itu. Tanpa banyak pikir, pria itu melangkah cepat menuju kamar Tasha, membuka pintu dan menemukannya tengah membungkuk lemah di atas wastafel. Dengan gerakan refleks, Varrel menghampiri dan mengusap tengkuk leher Tasha, memberi tekanan lembut agar perempuan itu bisa sedikit rileks. “Pelan aja... tarik napas dulu,” ucapnya lirih, tenang. Tasha tersentak. “Gila, lo ngapain di kamar gue?!” Ia menepis tangan Varrel dengan gerakan kasar. Meski tubuhnya geme

