“Jangan bermimpi. Ini cuma pernikahan perjanjian. Jangan macam-macam.” Tasha terdiam. Dunia di sekitarnya membisu. Suara hair dryer, musik lembut dari speaker ruangan, semua lenyap. Yang tersisa hanya rasa perih yang menekan dadanya dari dalam. “Sha?” tanya Dita dari pojok ruangan, suaranya terdengar khawatir. “Kenapa?” Tasha menoleh pelan, lalu tersenyum tipis, berusaha setenang mungkin. “Nggak apa-apa.” Ia menekan tombol kunci layar dan meletakkan ponsel kembali di meja, seolah pesan itu tak berarti apa-apa. Tapi jari-jarinya gemetar sedikit saat menyentuh gaun. Ketukan terdengar di pintu. Seorang staf hotel masuk dengan clipboard di tangan. “Maaf, Nona Tasha. Ini waktunya membawa Anda ke altar. Semua tamu sudah berada di ballroom. Kami siap mengantar kapan pun Anda—” “Kalian mingg

