Namun Tasha menggeleng pelan, menolak dengan suara serak. “Enggak. Aku... aku cuma mau cari udara sebentar. Ada supir yang bisa antar aku keluar?” Ia membuka mata, menatap Amita. “Aku pengin makan sesuatu yang hangat, tapi di luar. Nanti balik lagi ke sini.” Belum sempat Amita menjawab, pintu ruang VIP terdengar terbuka. Seorang pria bertubuh tegap dalam setelan semi-formal berdiri di ambang pintu, membawa sebuah kotak bundar berisi kudapan hangat yang dikemas rapi dalam tas beludru. “Permisi. Ini titipan dari Nyonya Besar Miranti,” ucapnya sopan sambil membungkuk ringan ke arah Tasha. Tasha mengangguk, menerima kotak itu dan meletakkannya di meja kecil tanpa membukanya. Hatinya sedang tidak ingin manis-manis yang dikirim dengan empati formal. “Kamu... habis dari mana?” tanyanya pelan, t

