“Terima kasih,” balas Tasha sambil tersenyum, lalu memasuki mobil yang membawanya ke rumah sakit seperti biasa. Cuaca Jakarta sedikit mendung pagi itu. Angin tipis bertiup dari sela-sela pepohonan rumah sakit saat Tasha turun dan berjalan menyusuri lorong menuju kamar VVIP. Sepanjang jalan, ia menyapa beberapa perawat yang sudah mengenalnya, sampai langkahnya mendadak terhenti ketika mendengar suara yang tak asing… dan tak seharusnya terdengar di lorong sepi itu. Suara tinggi, tajam, dan sarat emosi. “Aku bilang, kamu seharusnya menyelesaikan urusan bisnis di London, Elvie! Jangan bertahan di sini seperti orang tidak waras!” Suara berat itu jelas milik Pak Yovindra, ayah Varrel, pria yang tidak pernah Tasha lihat mengunjungi anaknya sejak kecelakaan. “Apa kamu dengar dirimu sendiri?” s

