Kata-kata itu menggantung di udara, seperti harapan kecil yang melayang dalam hening. Tasha hanya bisa membalas dengan senyuman tipis, senyuman yang tidak sepenuhnya bahagia, tapi cukup untuk menenangkan hati seorang ibu yang merasa kehilangan dua anak sekaligus. Pelukan itu terlepas perlahan. Tasha berdiri di tepi jendela kamarnya, memperhatikan Elvie berjalan keluar dari rumah itu, langkah demi langkah menjauh, menuruni tangga rumah orangtuanya, memasuki mobil yang menjemput. Dan saat mobil itu pergi, membelah jalanan yang basah oleh hujan semalam, Tasha tahu, itulah perpisahan yang sesungguhnya. Bukan kematian, bukan pengkhianatan. Tapi keikhlasan memilih jalan masing-masing demi tidak saling menyakiti lagi. Ia menggenggam tirai dengan erat, seolah itu bisa menahan keinginannya untuk

