Tasha tersenyum tipis, lalu melangkah keluar. Di lobi, seorang pria seusianya berdiri mengenakan jas hitam kasual dan menyambutnya dengan sopan. Kulitnya sawo matang, rapi, dan wajahnya menyiratkan ketenangan yang tulus. “Selamat sore, Ibu Tasha. Saya Ibra. Terima kasih atas kesempatannya bekerja partime di Sarasana,” ucapnya sambil menunduk sedikit. Tasha mengangguk singkat. “Terima kasih juga sudah bersedia mengantar.” Mereka berjalan menuju mobil hitam elegan yang sudah terparkir di pelataran. Begitu pintu dibukakan, Tasha masuk, dan perjalanan dimulai menyusuri jalanan Seoul yang mulai bermandikan cahaya senja. Sepanjang perjalanan, suara mesin nyaris tak terdengar. “Jadi, kamu kuliah?” Ibra yang duduk tenang di balik kemudi menjawab dengan nada sopan. “Saya mahasiswa tahun terak

